di blog ini dilarang berkata kasar seperti ******* ****** ****** *****
kasian deh lo
Rabu, 30 Maret 2016
driver gojek mendemo
Driver Go-Jek ‘Ngamuk’
pengemudi go-jek melakukan demo.NONSTOP.com- Sejumlah pengemudi Go-Jek menggelar demonstrasi, Senin (16/11) siang. Aksi unjuk rasa itu kabarnya untuk memprotes kebijakan pemotongan sebesar Rp 40 ribu terhadap honor pengemudi.Seperti yang direncanakan, para pengemudi Go-Jek menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT Go-Jek Indonesia di Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, kemarin. Namun tak seperti yang diprediksi, aksi hanya diikuti sekitar belasan pengeamudi. Unjuk rasa dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Aksi ini untuk memprotes kebijakan pemotongan sebesar Rp 40 ribu terhadap honor pengemudi. Manajemen diketahui melakukan pemotongan untuk biaya seragam, jaket dan atribut. Para pengemudi menilai tindakan tersebut telah melanggar kesepakatan. “Perusahaan Go-Jek melanggar UU Ketenagakerjaan, kami dianggap mitra tapi seperti pekerja. Menurunkan tarif per kilometer dari Rp 4 ribu jadi Rp 3 ribu tanpa ada negosiasi. Pemotongan uang dilakukan seenaknya,” jelas koordinator aksi di depan kantor Go-Jek. Dalam aksinya, para pengunjuk rasa membawa serta sejumlah poster. Di antaranya bertuliskan, ‘Go-Jek seruput nyawa drivernya sedikit demi sedikit’, ‘Banyak maling nih di kantor’ dan ‘Go-Jek karya anak bandit’. Terlihat juga anak dan istri para driver Go-Jek ikut dalam unjuk rasa yang dilakukan. Unjuk rasa ini membuat arus lalu lintas tersendat. Pihak kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan yang berjaga segera meminta para driver yang memakai jaket hijau untuk masuk ke area kantor Go-Jek. Tak tanggung-tanggung, demonstrasi ini rencananya bakal dilakukan selama tiga hari. Sebelumnya CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengaku memang sengaja menurunkan tarif per kilometer yang diterima sopir Gojek dengan alasan merasionalkan tarif. “Jika kami menurunkan subsidi untuk pengguna, itu akan merugikan bagi pengguna dan pengemudi. Menurunkan tarif (untuk sopir Gojek) adalah pilihan agar pengemudi terus bisa menerima order,” kata Nadiem. Namun keputusan ini tampaknya tidak bisa diterima oleh sejumlah mitra Gojek. Mereka menganggap hal ini hanya dilakukan secara sepihak, dan bakal merugikan para mitra Go-Jek. “Dengan hanya memberikan pengumumkan ke beberapa pihak driver tanpa adanya kesepakatan dengan seluruh driver,” tulis surat edaran unjuk rasa yang dikirimkan ke sejumlah mitra Go-Jek. Dalam surat para demostran juga mengancam akan melakukan unjuk rasa selama tiga hari, pada Senin (16/11), Rabu (18/11) dan Jumat 20/11) jika permintaan mereka tidak dituruti. Aksi unjuk rasa ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya para mitra Go-Jek juga berniat melakukan hal serupa atas masalah yang sama, yakni pengurangan komisi. Namun aksi sebelumnya urung dilaksanakan karena alasan yang tidak disebutkan. Go-Jek sendiri kini telah memiliki 200 ribu mitra pengemudi di lima kota tempat mereka beroperasi, di mana 100 ribu di antaranya adalah mitra pengemudi di Jakarta. Akibat penurunan tarif ini, sempat muncul pesan berantai di antara mitra pengemudi untuk melakukan demonstrasi sebagai bentuk protes kepada Go-Jek Para mitra pengemudi Go-Jek meminta perusahaan PT Go-Jek Indonesia lebih transparan dalam melakukan pemotongan biaya dari pendapatan agar mereka mengetahui ke mana setiap duit yang dikutip berlabuh. Pengemudi yang bergabung dengan Go-Jek pada umumnya akan dikenakan biaya potongan dari pendapatan untuk kredit perangkat ponsel, potongan untuk biaya atribut seperti helm, penutup wajah, sampai jaket, dan potongan untuk cicilan motor bagi mereka yang membeli motor dengan cara kredit lewat perusahaan Go-Jek. Namun, para pengemudi ini berpendapat bahwa tak ada rincian yang detail terkait pemotongan pendapatan kendati sejak awal mereka telah diberi tahu biaya-biaya yang akan dikutip. “Pemotongan bisa dicek di deposit bahwa ada potongan sekian, namun tidak ada rincian yang jelas terkait untuk apa pemotongan dilakukan,” ungkap salah satu sopir Go-Jek yang enggan disebutkan namanya, Senin (16/11). Pemotongan yang dialami sopir Go-Jek bisa sebesar Rp 40 ribu setiap pekan, hingga Rp 150 ribu bagi mereka yang menyicil motor lewat Go-Jek. Besarnya cicilan sopir Go-Jek ini memang bervariasi. Untuk cicilan perangkat ponsel, misalnya, besarnya cicilan tergantung dari merek dan tipe ponsel. Begitu juga dengan jumlah cicilan motor. Setiap sopir memiliki tanggung jawab melunasi cicilan dari gaji yang mereka raih setiap pekan. Namun sejauh ini, para pengemudi menilai perusahaan Go-Jek belum transparan terkait hal ini. Mereka juga mengaku tak mendapat informasi cicilan yang mereka jalani ini sudah sejauh mana. Untuk atribut, contohnya, beberapa pengemudi mengaku belum mendapatkan atribut tetapi pihak Go-Jek dituding melakukan pemotongan dari pendapatan. “Mungkin masih banyak sopir lama yang masih belum mendapatkan atribut, sedangkan mereka mengalami pemotongan pada depositnya. Ini yang mungkin kemudian membuat mereka bingung dan bertanya-tanya, kira-kira pemotongan dari depositnya itu digunakan untuk bayar cicilan apa saja,” ujar pengemudi Go-Jek lainnya. Pemotongan ini kabarnya sempat dilakukan setiap hari dengan rincian bervariasi bagi setiap sopir. Namun kini, setelah ada penggantian sistem pada manajemen Go-Jek, pemotongan dilakukan setiap pekan. Rata-rata, cicilan akan lunas dalam waktu tiga bulan. “Dulu, pemotongan dilakukan setiap hari. Ada yang dipotong sebesar Rp 8 ribu, Rp 11 ribu, dan Rp 15 ribu. Sekarang, pemotongan dilakukan setiap akhir pekan. Minggu lalu, pemotongan dilakukan hari Sabtu,” tuturnya. Lantaran pengelola Go-Jek yang dinilai tidak transparan dan menimbulkan tanda tanya besar, sejumlah mitra pengemudi melakukan aksi protes di depan Kantor Go-Jek yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Mereka berencana melakukan aksi protes selama tiga hari. Koordinator aksi ini, Fitrijansjah Toisutta, menilai Go-Jek telah melakukan pemotongan pendapatan secara sepihak. Mereka juga menuntut agar Go-Jek mengembalikan tarif per kilometer menjadi Rp 4.000, dari Rp 3.000 per kilometer yang kini berlaku. Fitrijansjah mengatakan, Go-Jek telah menyalahi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. “Kebijakan tarif yang tadinya per kilometer Rp 4.000 kemudian menjadi Rp 3.000, kita minta kembali ke tarif semula, tapi ditolak sementara oleh perwakilan perusahaan. Perundingan ditolak karena mereka harus mundur ke belakang dulu untuk berbicara menemui manajemen,” tutur Fitrijansjah. Menurut Fitrijansjah, unjuk rasa direncanakan akan dilakukan di Kantor Go-Jek di Kemang, Jakarta Selatan, dan kantor Kementerian Tenaga Kerja. “Kami menilai masalah ini sudah sangat krusial. Karena itu, kami juga akan menyampaikannya ke Menaker,” ujarnya. Sementara itu, VP Operasional Go-Jek Tadeus Nugraha memberi jawaban atas keluhan para pengemudinya itu. “Memang kemarin sempat ada masalah di sistem, sehingga driver yang biasa tiap hari cicilan dipotong, selama beberapa hari nggak terpotong. Dan kami sudah informasikan kepada driver bahwa itu semua yang kemarin akan dipotong pada hari Jumat,” terang Tadeus di Kantor Go-Jek di Kemang, Senin (16/11). Tadeus menyampaikan, potongan yang dilakukan bermacam-macam jumlahnya. Mulai dari HP sampai aneka cicilan. “HP macam-macam, ZTE yang lama Rp 7 ribu per hari selama 100 hari. Tapi ada macam-macamnya yang lain, dicicil hanya pada hari kerja. Kenapa ada yang potongan Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu. Ada potongan lain, mereka kredit motor, kacamata, TV, kulkas, itukan macam-macam tiap orang cicilannya berbeda,” jelas dia. “Jadi nggak benar kalau Rp 40 ribu itu untuk seragam, jaket dan atribut lainnya. Kenapa sempat ada omongan 40 ribu? Itu adalah satu orang yang cicilan HP-nya Rp 8 ribu perhari, kami potong selama lima hari, jadi kan cocok tuh Rp 40 ribu,” tegas Tadeus. Menurut dia, potongan untuk HP sesuai dengan jenis yang tersedia dan pilihan para driver dan yang paling kecil cicilan HP Rp 7 ribu. “Untuk seragam jaket itu ada Rp 5 ribu per hari untuk 38 hari. Dan untuk helm 5 ribu untuk 38 hari. Kalau kemitraan selesai, jaket dikembalikan dan nggak ada refund,” ujar dia. Sementara soal penurunan tarif per kilometer, pihaknya sudah menyampaikan ke para driver bahwa tujuannya untuk membuat konsumen tetap bertahan. “Jadi kalaupun tarif sampai turun, tidak hanya pengendara yang mengalami sakit tapi pihak Go-Jek juga merugi. Karena sistemnya persentase, 20 persen Go-Jek yang tanggung,” tutur Tadeus. “Jadi kami sudah sosialisasikan dengan, Anda sedikit merugi, kita juga merugi tapi dengan harapan agar ordernya semakin banyak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar